BENCI
TANDA CINTA
Bintang fajar telah menyingsing. Keheningan menguap
bersama hembusan angin selatan. Sinar terang yang pertama berpacu menerangi
langit dan langit pun tersenyum, laksana seorang mayoret yang menyaksikan
pasukan drum bandnya telah siap. Burung-burung berkicauan dari celah-celah
ranting, memanjatkan doa-doa pujaan dengan bahasa mereka. Di ufuk timur,
semburat jingga membelah angkasa, sinar emasnya memandikan setiap pohon yang
sedang bergoyang syahdu mengikuti intro-intro angin. Sungguh indah pagi ini,
seindah taman Firdaus di atas sana.
Seperti biasa pagi ini sebelum berangkat sekolah gue
selalu membantu nyokap gue tercinta buat menyiapkan sarapan, untuk makan
keluarga kami sebelum mereka semua melakukan rutinitas kesehariannya.
“Sella, hari ini adalah hari pertama masuk sekolah kan.”
Ujar nyokap.
“Iya ma.” Jawab gue.
“Inget pesan mama, kamu kalau berteman yang hati-hati,
sekarang banyak orang yang berteman cuman mau manfaatin dia.” Timpal mama.
“Iya ma.” Jawab ku.
“Yaudah kamu berangkat sekolah gih, nanti terlambat.”
Kata nyokap.
“Iya ma, aku berangkat sekolah dulu.” (Sambil gue mencium
tangan nyokap gue).
“Iya hati-hati, jangan lupa nanti pulang sekolah bantuin
Ma” Pesan nyokap.
“Iya ma.” Jawab ku.
“Pah, aku berangkat sekolah dulu.”(Sambil mencium tangan
bokap gue) Kata Sella.
“Iya hati-hati sayang.”
“Iya Pah.” Jawab Sella.
Hari ini adalah hari pertama gue masuk sekolah. Perasaan takut, gugup, nervous, dan gelisah
campur aduk menjadi satu yang menjadikan suatu perasaan antah berantah yang gak
bisa dijelaskan secara ilmiah. Apalagi disini tidak ada salah satu temanku yang
masuk disekolah yang sama dengan ku, maklumlah gue nggak pandai berinteraksi
dengan orang lain yang baru gue terkenal. Gue adalah salah satu murid dari SMA
negeri di salah satu kota tercinta gue, tapi maaf gue nggak bisa beritahu
dimana sekolah gue, nanti dikiranya gue lagi promosiin sekolah gue.
Bell sekolah udah berbunyi itu tandanya aktifitas belajar
mengajar udah mau dimulai. Kayaknya hari ini adalah hari sial gue, pertama kali
masuk sekolah di sekolah baru gue, gue udah terlambat aja, dan mau nggak mau
gue harus menerima hukuman dari guru BP. Dan nggak disangka ternyata musuh
bebuyutan gue juga satu sekolahan sama gue, dia adalah musuh bebuyutan gue selama
masih SD, dan beruntung waktu SMP gue tidak satu sekolah dengannya. Dia adalah
Reno orang sering sekali ngejekin gue waktu kecil karena waktu itu gue masih
gendut dan jelek. Dan ternyata dia juga terlambat masuk sekolah. Akhirnya guru
BP membentuk tim untuk melaksanakan hukuman yang akan gue terima.
“Oke, saya akan membentuk tim untuk melaksanakan hukuman
dari saya, dan setelah saya membentuk tim tidak ada yang protes atas keputusan
saya. Dan mau tidak mau kalian harus menerima tim yang telah saya bagikan.”
Jelas guru BP.
“Siap!! Bu.” Jawab anak-anak.
“Siapa nama kamu?” Tanya guru BP ke gue.
“Saya Sella Ayu Wulandari, Bu.” Jawab gue sambil berharap
gue nggak akan satu tim dengan Reno dan semoga aja hukuman yang gue terima ngga
aneh-aneh.
“Nama kamu siapa?” tanya guru BP ke Reno.
“Saya Reno Saputra Wicaksono, Bu.” Jawab Reno.
“Sella dan Reno kalian saya jadikan satu tim.”
“Apa?!!” sahut gue dan Reno sontak.
“Bu, tolong saya dipasangin sama siapa aja yang penting
jangan sama dia bu.” Ujar Sella.
“Emangnya gue mau sama lo?! Idiih amit-amit dah.”timpal
Reno.
“Apa kalian tidak mengerti apa yang saya jelaskan tadi,
keputusan yang sudah saya buat tidak bisa di ganggu gugat, dan kalian mau tidak
mau harus menjadi satu tim!” Ujar guru BP.
“Iya, Bu kami paham” jawab Sella dan Reno.
“Dan kalian saya beri hukuman untuk membersihkan halaman
belakang sekolah, dan istirahat pertama kalian harus selesai membersihkan
halaman belakang, jika kalian belum selesai membersihkannya hukuman kalian akan
saya tambah lagi. Paham?”
“Paham bu.” Jawab kami.
“Sekarang kalian mulai membersihkan halaman belakang
sekarang.”
“Siap bu!”
Dengan berat hari gue harus nerima hukuman yang gue
terima dengan orang yang paling gue benci, hla harus gimana lagi nggak ada
pilihan lain selain nerima. Gue telat gara-gara angkot yang gue naikin mogok
jadinya gue harus jalan kaki sampe sekolah, udah jaraknya jauh amat.
“Lo, ngapain juga sekolah disini?! Jangan-jangan lo
ngikutin gue masuk ke sekolah sini ya? Biar lo bisa ngejekin gue lagi kan?”
tanya gue.
“Lo tuh ya, sama orang tuh jangan negatif thingking dulu
deh, gue tuh disini emang udah niat masuk kesekolah ini, dan gue disini ya juga
mau belajar, lagian gue juga gak tau kalo lo juga masuk sini kali.” Timpal
Reno.
“Hla emang SMA tuh cuman disini doang? lu kan bisa cari
yang lain nggak harus disinikan?”ujar Sella.
“Hla kalo gue pengennya masuk ke sekolah sini emang lu
mau ngapa? Gue juga punya hak dong buat milih sekolah mana yang mau gue tuju,
palingan lu kali yang ngikutin gue, secara gue kan ganteng banyak cewek yang
deketin gue.”
“Idiih, amit-amit cabang bayi, nggak ada istilah di kamus
gue ngikutin lo.”timpal Sella.
“Halaah....” Reno belum sempat menyelesaikan
pembicaraanya tiba-tiba...
“Kenapa kalian masih diam aja, kalian saya suruh buat
bersihin halaman belakang malah asik ngobrol, apa perlu saya tambah lagi
hukumannya, apa hukumannya yang ini masih kurang?” Bentak guru BP.
“Tidak bu.” Gue dan Reno hanya bisa diam seribu kata
ketika diomelin guru BP.
“Sekarang kalian bersihkan halaman ini sekarang, dan
kalian sedang dalam pengawasan saya.” Ucap guru BP.
“Iya bu.” Jawab kami dengan pasrah tanpa bisa melawan.
Akhirnya tugas bersih-bersih selesai juga, lalu guru BP
memberikan surat pembinaan agar kami berdua bisa masuk ke kelas dan mengikuti
pelajaran efektif. Setelah keliling mencari ruangan kelas gue berada akhirnya
gue ketemu juga sama ruang kelas gue. Dan... diluar dugaan ternyata Reno jadi
teman satu kelas gue. Gak kebayang gue harus sekelas sama dia yang jelas-jelas
nggak bisa akur sampe kapanpun.
“Permisi bu, maaf saya terlambat.” Sambil memberikan
surat pembinaan kepada guru yang sedang mengajar waktu itu.
“Kenapa terlambat?” tanya guru pengampu.
“Tadi saya naik angkot, hla kebetulan tadi angkotnya
mogok, jadi saya jalan kaki sampe ke sekolah.”
“Ya sudah, jangan diulangi lagi. Sekarang boleh duduk, kamu cari tempat duduk yang masih
kosong saja.”
“Iya bu, terimakasih.” Jawab gue.
Lalu gue mencari tempat duduk yang kosong, sialnya lagi
nggak ada tempat duduk yang kosong yang ada hanya di sebelah Reno. Astaga hari
ini memang hari sial gue, udah terlambat, ketemu orang yang nggak pengen gue
lihat. Mau apalagi? Entahlah udah pecah ini kepala gara-gara mikirin kejadian
hari ini.
Waktu istirahat yang kedua akhirnya datang juga, niatnya
gue mau ke kantin tapi berhubung gue belom ada temennya, gue akhirnya
mengurungkan niat gue untuk pergi ke kantin. Untuk mengisi kekosongan gue, gue
ngeluarin hp dan dengerin lagu dengan earphone. Selama gue dengerin lagu dengan
tenang, tiba-tiba ada yang yamperin ke meja gue.
“Hai, boleh kenalan nggak?” tanya seseorang yang gue
belum kenal. Gue dengan sigap melepaskan earphone yang terpasang di kedua
telinga gue.
“Oh ya boleh.”
Jawabku.
“ Nama lo siapa?”
“Gue Sella Ayu
Wulandari, biasa dipanggil Sella. Dan Lo siapa?”
“Gue Diana Swaraswati, bisa di panggil Diana,” Jawab
diana. “Oh ya, rumah lo dimana sih?” lanjut Diana.
“Rumah gue di
daerah Flamboyan blok G no.132,” jawab Sella dengan senyum kecilnya.
“Kebetulan banget
rumah gue juga di daerah situ, tapi beda blok. Gue di blok M.” Ujar Diana.
“ Bagus dong kalo
gitu kita bisa pulang sekolah bareng, terus bisa belajar bareng, bisa maen
bareng.”
“Ide yang bagus tuh, nanti pulang sekolah kita pulang
bareng ya,” timpal Diana.
“Oke siap!” jawab Sella.
Bersambung...
